A. Lafazd hadits:
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Hadits diatas menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit,
B. Letak hadits
Hadits dengan matan yang persis sama dengan hadits diatas diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut:
أخرج النسائي فقال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
C. Redaksi Hadits matan yang semakna
Selain Hadits dengan redaksi diatas, terdapat matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut. dalam hal ini ada tiga matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut, yaitu diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dari Arim melalui jalur Mu’tamir, Abu Daud dari Ibn al-Mubarak, dan Ibn Hibban dari Imran b. Musa sama-sama melalui jalur Sulaiman al-Tamimi semua berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanad masing-masing adalah:
أخرج أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
أخرج أحمد فقال: حدثنا عارم ثنا معتمر عن أبيه عن رجل عن أبيه عن معقل بن يسار ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : البقرة سنام القرآن وذروته نزل مع كل آية منها ثمانون ملكا واستخرجت { الله لا إله الا هو الحي القيوم } من تحت العرش فوصلت بها أو فوصلت بسورة البقرة ويس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
أخرج ابن حبان فقال: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ السَّخْتِيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس».
D. I’tibara al-Sanad
أن
عن
عن
عن
حدثنا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا
حدثنا حَدَّثَنَا حدثنا
حَدَّثَنَا
F. Analisis Sanad Hadits
Hadits yang diteliti sanadnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut: Data-data periwayatanya adalah sebagai berikut:
1. Ma’qil b. Yasar
Nama legkapnya adalah Ma’qil b. Yasar b. Abdullah al-Muzanni, Wafat setelah tahun 60 H. salah satu sahabat yang ikut bai’at al-Ridwan, masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Ma’qil b. Yasar menerima hadits dari Nabi, sementara murid-muridnya diantaranya adalah: Abu Utsman, Hasan al-Basri, Uqbah b. Maisarah dll.
2. Abu Utsman
Nama legkapnya adalah Sa’ad Abu Utsman, Ibn Hajar memasukanya dalam Tabaqat al-Wusta al-Tabi’in (Thabaqat ketiga) masuk dalam rijal Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah. Abu Utsman menerima hadits dari Ma’qil b. Yasar b. Abdullah, Anas b. Malik,Anas b. Jandal al-Basri. sementara murid-muridnya diantaranya adalah Sulaiman al-Tamimi saja.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Abu Utsman adalah sebagai berikut: Ibn Hajar menilainya “ Maqbul”, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah, penilaian ini menunjukkan bahwa Abu Utsman adalah orang yang adil tapi kurang dhabit sehingga haditsnya dapat dinilai hasan.
Dalam sanad ini Abu Utsman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Abu Utsman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar karena pernah satu negari dan satu masa, dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid, dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar.
3. Sulaiman al-Tamimi
Nama legkapnya adalah Sulaiman b. Tharhan al-Tamimi, Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat keempat (Thabaqat tali al-Wustha min al-Tabi’in) Lahir tahun 46 H. wafat tahun 143 H. masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Sulaiman al-Tamimi menerima hadits dari Abu Utsman, Ibrahim b. Sa’ad b. Abi Waqas, Ibrahim b. Abdullah, Anas b, Malik dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi, Syu’bah b. Hajjaj, Ibrahim b.Sa’ad, Hammad b. Zeid, Sufyan al-Tsauriy dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Sulaiman al-Tamimi sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya ahad al-Sadah, Yahya b. Ma’in menilainya kadang-kadang mentadliskan, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Sa’ad b. Ibrahim adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Sulaiman al-Tamimi memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Sulaiman al-Tamimi sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman. karena pernah satu masa dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman.
4. Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi
Nama lengkapnya adalah Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesembilan (Thabaqat Sighar ‘Atba’ al-Tabi’in) lahir 106 dan wafat tahun 187 H. masuk dalam rijal al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Mu’tamir menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi, Sa’ad b. Ibrahim, Habib b. Zaied, Aban b. Taghlib, Ibrahim b. Muhammad al-Muntasyar, Ibrahim b. Muslim al-Hijriy, Ibrahim b. Muhajir, Ibrahim b. Maisaroh dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Muhammad b. Abdul A’la, Ibrahim b. Sa’ad al-Zuhriy, Ibrahim b. Thahman, Ibrahim b. Mukhtar al-Raziy, Asad b. Musa, Abu Daud al-Thayalisi dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Mu’tamir b. Sulaiman sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya Ra’san fi al-Hadits wa al-Ibadah,, Yahya b. Ma’in menilainya Tsiqah, al-Raziy menilainya Tsiqatun Shadduq. Penilaian ini menunjukkan bahwa Mu’tamir b. Sulaiman adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Mu’tamir b. Sulaiman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Mu’tamir b. Sulaiman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman.karena pernah satu negari dan satu masa disamping terdata memiliki hubungan guru dan murid juga terdata sebagai bapak dan anak. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman al-Tamimi.
5. Muhammad b. Abdul A’la
Nama lengkapnya adalah Muhammad b. Abdul A’la Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesepuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) wafat tahun 145 H. masuk dalam rijal Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Muhammad b. Abdul A’la menerima hadits dari Mu’tamir b. Sulaiman, Aban b. Yazid al-Athar, Ibrahim b. Sa’ad, Israil b. Yunus, Jarir b. Hazim, Jarir b. Abdul Hamid dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Muhammad b. Abdul A’la diantaranya adalah: al-Nasa’I, Ibrahim b. Marzuq al-Basriy, Ahmad b. Ibrahim, Ahmad b. Sanan al-Qattan, Ahmad b. Hanbal dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Muhammad b. Abdul A’la sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, Hafizdun, al-Dzahabiy menilainya diTsiqahkan oleh al-Raziy, al-Nasa’I menilainya Tsiqatun, Ibn Hibban juga memasukanyadalam orang-orang yang tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Muhammad b. Abdul A’la adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih,
Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, syimbol periwayatan ini dihukumi terjadinya pertmuan antara Abu Daud al-Thayalisi dengan Mu’tamir b. Sulaiman.
6. Al-Nasa’I
6. Hasil Analisis Sanad Hadits dan Diskusi lebih lanjut
Analisis pribadi periwayat dan simbol periwayatanya diatas telah memeperlihatkan bahwa sanad Hadits diatas yang menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit, memakai simbol periwayatan ‘an, selain pada Thabaqat kespuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) yaitu Muhammad b. Abdul A’la Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, akan tetapi dari mata rantai perawi-perawinya tidak ditemukan satupun yang Mudallis.
Cuma ada perbedaan ada pada pribadi Abi Utsman tentang penerimaan hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar , ada yang mengatkan melalui bapaknya seperti jalur Ahmad b. Hanbal, al-nasa’I dan Ibn Majah, sementara dari riwayat Ibn Hibban dijelaskan bahwa Abi Utsman menerima hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar, penulis memilih pada riwayat Ibn Hibban.
Wallahu A’lam.
Jumat, 13 September 2013
A. Lafazd hadits:
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Hadits diatas menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit,
B. Letak hadits
Hadits dengan matan yang persis sama dengan hadits diatas diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut:
أخرج النسائي فقال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
C. Redaksi Hadits matan yang semakna
Selain Hadits dengan redaksi diatas, terdapat matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut. dalam hal ini ada tiga matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut, yaitu diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dari Arim melalui jalur Mu’tamir, Abu Daud dari Ibn al-Mubarak, dan Ibn Hibban dari Imran b. Musa sama-sama melalui jalur Sulaiman al-Tamimi semua berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanad masing-masing adalah:
أخرج أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
أخرج أحمد فقال: حدثنا عارم ثنا معتمر عن أبيه عن رجل عن أبيه عن معقل بن يسار ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : البقرة سنام القرآن وذروته نزل مع كل آية منها ثمانون ملكا واستخرجت { الله لا إله الا هو الحي القيوم } من تحت العرش فوصلت بها أو فوصلت بسورة البقرة ويس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
أخرج ابن حبان فقال: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ السَّخْتِيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس».
D. I’tibara al-Sanad
أن
عن
عن
عن
حدثنا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا
حدثنا حَدَّثَنَا حدثنا
حَدَّثَنَا
F. Analisis Sanad Hadits
Hadits yang diteliti sanadnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut: Data-data periwayatanya adalah sebagai berikut:
1. Ma’qil b. Yasar
Nama legkapnya adalah Ma’qil b. Yasar b. Abdullah al-Muzanni, Wafat setelah tahun 60 H. salah satu sahabat yang ikut bai’at al-Ridwan, masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Ma’qil b. Yasar menerima hadits dari Nabi, sementara murid-muridnya diantaranya adalah: Abu Utsman, Hasan al-Basri, Uqbah b. Maisarah dll.
2. Abu Utsman
Nama legkapnya adalah Sa’ad Abu Utsman, Ibn Hajar memasukanya dalam Tabaqat al-Wusta al-Tabi’in (Thabaqat ketiga) masuk dalam rijal Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah. Abu Utsman menerima hadits dari Ma’qil b. Yasar b. Abdullah, Anas b. Malik,Anas b. Jandal al-Basri. sementara murid-muridnya diantaranya adalah Sulaiman al-Tamimi saja.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Abu Utsman adalah sebagai berikut: Ibn Hajar menilainya “ Maqbul”, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah, penilaian ini menunjukkan bahwa Abu Utsman adalah orang yang adil tapi kurang dhabit sehingga haditsnya dapat dinilai hasan.
Dalam sanad ini Abu Utsman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Abu Utsman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar karena pernah satu negari dan satu masa, dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid, dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar.
3. Sulaiman al-Tamimi
Nama legkapnya adalah Sulaiman b. Tharhan al-Tamimi, Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat keempat (Thabaqat tali al-Wustha min al-Tabi’in) Lahir tahun 46 H. wafat tahun 143 H. masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Sulaiman al-Tamimi menerima hadits dari Abu Utsman, Ibrahim b. Sa’ad b. Abi Waqas, Ibrahim b. Abdullah, Anas b, Malik dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi, Syu’bah b. Hajjaj, Ibrahim b.Sa’ad, Hammad b. Zeid, Sufyan al-Tsauriy dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Sulaiman al-Tamimi sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya ahad al-Sadah, Yahya b. Ma’in menilainya kadang-kadang mentadliskan, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Sa’ad b. Ibrahim adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Sulaiman al-Tamimi memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Sulaiman al-Tamimi sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman. karena pernah satu masa dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman.
4. Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi
Nama lengkapnya adalah Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesembilan (Thabaqat Sighar ‘Atba’ al-Tabi’in) lahir 106 dan wafat tahun 187 H. masuk dalam rijal al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Mu’tamir menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi, Sa’ad b. Ibrahim, Habib b. Zaied, Aban b. Taghlib, Ibrahim b. Muhammad al-Muntasyar, Ibrahim b. Muslim al-Hijriy, Ibrahim b. Muhajir, Ibrahim b. Maisaroh dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Muhammad b. Abdul A’la, Ibrahim b. Sa’ad al-Zuhriy, Ibrahim b. Thahman, Ibrahim b. Mukhtar al-Raziy, Asad b. Musa, Abu Daud al-Thayalisi dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Mu’tamir b. Sulaiman sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya Ra’san fi al-Hadits wa al-Ibadah,, Yahya b. Ma’in menilainya Tsiqah, al-Raziy menilainya Tsiqatun Shadduq. Penilaian ini menunjukkan bahwa Mu’tamir b. Sulaiman adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Mu’tamir b. Sulaiman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Mu’tamir b. Sulaiman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman.karena pernah satu negari dan satu masa disamping terdata memiliki hubungan guru dan murid juga terdata sebagai bapak dan anak. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman al-Tamimi.
5. Muhammad b. Abdul A’la
Nama lengkapnya adalah Muhammad b. Abdul A’la Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesepuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) wafat tahun 145 H. masuk dalam rijal Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Muhammad b. Abdul A’la menerima hadits dari Mu’tamir b. Sulaiman, Aban b. Yazid al-Athar, Ibrahim b. Sa’ad, Israil b. Yunus, Jarir b. Hazim, Jarir b. Abdul Hamid dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Muhammad b. Abdul A’la diantaranya adalah: al-Nasa’I, Ibrahim b. Marzuq al-Basriy, Ahmad b. Ibrahim, Ahmad b. Sanan al-Qattan, Ahmad b. Hanbal dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Muhammad b. Abdul A’la sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, Hafizdun, al-Dzahabiy menilainya diTsiqahkan oleh al-Raziy, al-Nasa’I menilainya Tsiqatun, Ibn Hibban juga memasukanyadalam orang-orang yang tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Muhammad b. Abdul A’la adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih,
Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, syimbol periwayatan ini dihukumi terjadinya pertmuan antara Abu Daud al-Thayalisi dengan Mu’tamir b. Sulaiman.
6. Al-Nasa’I
6. Hasil Analisis Sanad Hadits dan Diskusi lebih lanjut
Analisis pribadi periwayat dan simbol periwayatanya diatas telah memeperlihatkan bahwa sanad Hadits diatas yang menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit, memakai simbol periwayatan ‘an, selain pada Thabaqat kespuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) yaitu Muhammad b. Abdul A’la Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, akan tetapi dari mata rantai perawi-perawinya tidak ditemukan satupun yang Mudallis.
Cuma ada perbedaan ada pada pribadi Abi Utsman tentang penerimaan hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar , ada yang mengatkan melalui bapaknya seperti jalur Ahmad b. Hanbal, al-nasa’I dan Ibn Majah, sementara dari riwayat Ibn Hibban dijelaskan bahwa Abi Utsman menerima hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar, penulis memilih pada riwayat Ibn Hibban.
Wallahu A’lam.
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Hadits diatas menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit,
B. Letak hadits
Hadits dengan matan yang persis sama dengan hadits diatas diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut:
أخرج النسائي فقال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
C. Redaksi Hadits matan yang semakna
Selain Hadits dengan redaksi diatas, terdapat matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut. dalam hal ini ada tiga matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut, yaitu diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dari Arim melalui jalur Mu’tamir, Abu Daud dari Ibn al-Mubarak, dan Ibn Hibban dari Imran b. Musa sama-sama melalui jalur Sulaiman al-Tamimi semua berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanad masing-masing adalah:
أخرج أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
أخرج أحمد فقال: حدثنا عارم ثنا معتمر عن أبيه عن رجل عن أبيه عن معقل بن يسار ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : البقرة سنام القرآن وذروته نزل مع كل آية منها ثمانون ملكا واستخرجت { الله لا إله الا هو الحي القيوم } من تحت العرش فوصلت بها أو فوصلت بسورة البقرة ويس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
أخرج ابن حبان فقال: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ السَّخْتِيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس».
D. I’tibara al-Sanad
أن
عن
عن
عن
حدثنا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا
حدثنا حَدَّثَنَا حدثنا
حَدَّثَنَا
F. Analisis Sanad Hadits
Hadits yang diteliti sanadnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut: Data-data periwayatanya adalah sebagai berikut:
1. Ma’qil b. Yasar
Nama legkapnya adalah Ma’qil b. Yasar b. Abdullah al-Muzanni, Wafat setelah tahun 60 H. salah satu sahabat yang ikut bai’at al-Ridwan, masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Ma’qil b. Yasar menerima hadits dari Nabi, sementara murid-muridnya diantaranya adalah: Abu Utsman, Hasan al-Basri, Uqbah b. Maisarah dll.
2. Abu Utsman
Nama legkapnya adalah Sa’ad Abu Utsman, Ibn Hajar memasukanya dalam Tabaqat al-Wusta al-Tabi’in (Thabaqat ketiga) masuk dalam rijal Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah. Abu Utsman menerima hadits dari Ma’qil b. Yasar b. Abdullah, Anas b. Malik,Anas b. Jandal al-Basri. sementara murid-muridnya diantaranya adalah Sulaiman al-Tamimi saja.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Abu Utsman adalah sebagai berikut: Ibn Hajar menilainya “ Maqbul”, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah, penilaian ini menunjukkan bahwa Abu Utsman adalah orang yang adil tapi kurang dhabit sehingga haditsnya dapat dinilai hasan.
Dalam sanad ini Abu Utsman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Abu Utsman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar karena pernah satu negari dan satu masa, dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid, dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar.
3. Sulaiman al-Tamimi
Nama legkapnya adalah Sulaiman b. Tharhan al-Tamimi, Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat keempat (Thabaqat tali al-Wustha min al-Tabi’in) Lahir tahun 46 H. wafat tahun 143 H. masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Sulaiman al-Tamimi menerima hadits dari Abu Utsman, Ibrahim b. Sa’ad b. Abi Waqas, Ibrahim b. Abdullah, Anas b, Malik dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi, Syu’bah b. Hajjaj, Ibrahim b.Sa’ad, Hammad b. Zeid, Sufyan al-Tsauriy dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Sulaiman al-Tamimi sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya ahad al-Sadah, Yahya b. Ma’in menilainya kadang-kadang mentadliskan, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Sa’ad b. Ibrahim adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Sulaiman al-Tamimi memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Sulaiman al-Tamimi sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman. karena pernah satu masa dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman.
4. Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi
Nama lengkapnya adalah Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesembilan (Thabaqat Sighar ‘Atba’ al-Tabi’in) lahir 106 dan wafat tahun 187 H. masuk dalam rijal al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Mu’tamir menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi, Sa’ad b. Ibrahim, Habib b. Zaied, Aban b. Taghlib, Ibrahim b. Muhammad al-Muntasyar, Ibrahim b. Muslim al-Hijriy, Ibrahim b. Muhajir, Ibrahim b. Maisaroh dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Muhammad b. Abdul A’la, Ibrahim b. Sa’ad al-Zuhriy, Ibrahim b. Thahman, Ibrahim b. Mukhtar al-Raziy, Asad b. Musa, Abu Daud al-Thayalisi dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Mu’tamir b. Sulaiman sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya Ra’san fi al-Hadits wa al-Ibadah,, Yahya b. Ma’in menilainya Tsiqah, al-Raziy menilainya Tsiqatun Shadduq. Penilaian ini menunjukkan bahwa Mu’tamir b. Sulaiman adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Mu’tamir b. Sulaiman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Mu’tamir b. Sulaiman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman.karena pernah satu negari dan satu masa disamping terdata memiliki hubungan guru dan murid juga terdata sebagai bapak dan anak. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman al-Tamimi.
5. Muhammad b. Abdul A’la
Nama lengkapnya adalah Muhammad b. Abdul A’la Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesepuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) wafat tahun 145 H. masuk dalam rijal Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Muhammad b. Abdul A’la menerima hadits dari Mu’tamir b. Sulaiman, Aban b. Yazid al-Athar, Ibrahim b. Sa’ad, Israil b. Yunus, Jarir b. Hazim, Jarir b. Abdul Hamid dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Muhammad b. Abdul A’la diantaranya adalah: al-Nasa’I, Ibrahim b. Marzuq al-Basriy, Ahmad b. Ibrahim, Ahmad b. Sanan al-Qattan, Ahmad b. Hanbal dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Muhammad b. Abdul A’la sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, Hafizdun, al-Dzahabiy menilainya diTsiqahkan oleh al-Raziy, al-Nasa’I menilainya Tsiqatun, Ibn Hibban juga memasukanyadalam orang-orang yang tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Muhammad b. Abdul A’la adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih,
Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, syimbol periwayatan ini dihukumi terjadinya pertmuan antara Abu Daud al-Thayalisi dengan Mu’tamir b. Sulaiman.
6. Al-Nasa’I
6. Hasil Analisis Sanad Hadits dan Diskusi lebih lanjut
Analisis pribadi periwayat dan simbol periwayatanya diatas telah memeperlihatkan bahwa sanad Hadits diatas yang menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit, memakai simbol periwayatan ‘an, selain pada Thabaqat kespuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) yaitu Muhammad b. Abdul A’la Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, akan tetapi dari mata rantai perawi-perawinya tidak ditemukan satupun yang Mudallis.
Cuma ada perbedaan ada pada pribadi Abi Utsman tentang penerimaan hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar , ada yang mengatkan melalui bapaknya seperti jalur Ahmad b. Hanbal, al-nasa’I dan Ibn Majah, sementara dari riwayat Ibn Hibban dijelaskan bahwa Abi Utsman menerima hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar, penulis memilih pada riwayat Ibn Hibban.
Wallahu A’lam.
A. Lafazd hadits:
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Hadits diatas menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit,
B. Letak hadits
Hadits dengan matan yang persis sama dengan hadits diatas diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut:
أخرج النسائي فقال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
C. Redaksi Hadits matan yang semakna
Selain Hadits dengan redaksi diatas, terdapat matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut. dalam hal ini ada tiga matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut, yaitu diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dari Arim melalui jalur Mu’tamir, Abu Daud dari Ibn al-Mubarak, dan Ibn Hibban dari Imran b. Musa sama-sama melalui jalur Sulaiman al-Tamimi semua berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanad masing-masing adalah:
أخرج أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
أخرج أحمد فقال: حدثنا عارم ثنا معتمر عن أبيه عن رجل عن أبيه عن معقل بن يسار ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : البقرة سنام القرآن وذروته نزل مع كل آية منها ثمانون ملكا واستخرجت { الله لا إله الا هو الحي القيوم } من تحت العرش فوصلت بها أو فوصلت بسورة البقرة ويس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
أخرج ابن حبان فقال: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ السَّخْتِيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس».
D. I’tibara al-Sanad
أن
عن
عن
عن
حدثنا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا
حدثنا حَدَّثَنَا حدثنا
حَدَّثَنَا
F. Analisis Sanad Hadits
Hadits yang diteliti sanadnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut: Data-data periwayatanya adalah sebagai berikut:
1. Ma’qil b. Yasar
Nama legkapnya adalah Ma’qil b. Yasar b. Abdullah al-Muzanni, Wafat setelah tahun 60 H. salah satu sahabat yang ikut bai’at al-Ridwan, masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Ma’qil b. Yasar menerima hadits dari Nabi, sementara murid-muridnya diantaranya adalah: Abu Utsman, Hasan al-Basri, Uqbah b. Maisarah dll.
2. Abu Utsman
Nama legkapnya adalah Sa’ad Abu Utsman, Ibn Hajar memasukanya dalam Tabaqat al-Wusta al-Tabi’in (Thabaqat ketiga) masuk dalam rijal Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah. Abu Utsman menerima hadits dari Ma’qil b. Yasar b. Abdullah, Anas b. Malik,Anas b. Jandal al-Basri. sementara murid-muridnya diantaranya adalah Sulaiman al-Tamimi saja.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Abu Utsman adalah sebagai berikut: Ibn Hajar menilainya “ Maqbul”, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah, penilaian ini menunjukkan bahwa Abu Utsman adalah orang yang adil tapi kurang dhabit sehingga haditsnya dapat dinilai hasan.
Dalam sanad ini Abu Utsman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Abu Utsman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar karena pernah satu negari dan satu masa, dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid, dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar.
3. Sulaiman al-Tamimi
Nama legkapnya adalah Sulaiman b. Tharhan al-Tamimi, Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat keempat (Thabaqat tali al-Wustha min al-Tabi’in) Lahir tahun 46 H. wafat tahun 143 H. masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Sulaiman al-Tamimi menerima hadits dari Abu Utsman, Ibrahim b. Sa’ad b. Abi Waqas, Ibrahim b. Abdullah, Anas b, Malik dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi, Syu’bah b. Hajjaj, Ibrahim b.Sa’ad, Hammad b. Zeid, Sufyan al-Tsauriy dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Sulaiman al-Tamimi sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya ahad al-Sadah, Yahya b. Ma’in menilainya kadang-kadang mentadliskan, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Sa’ad b. Ibrahim adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Sulaiman al-Tamimi memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Sulaiman al-Tamimi sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman. karena pernah satu masa dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman.
4. Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi
Nama lengkapnya adalah Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesembilan (Thabaqat Sighar ‘Atba’ al-Tabi’in) lahir 106 dan wafat tahun 187 H. masuk dalam rijal al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Mu’tamir menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi, Sa’ad b. Ibrahim, Habib b. Zaied, Aban b. Taghlib, Ibrahim b. Muhammad al-Muntasyar, Ibrahim b. Muslim al-Hijriy, Ibrahim b. Muhajir, Ibrahim b. Maisaroh dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Muhammad b. Abdul A’la, Ibrahim b. Sa’ad al-Zuhriy, Ibrahim b. Thahman, Ibrahim b. Mukhtar al-Raziy, Asad b. Musa, Abu Daud al-Thayalisi dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Mu’tamir b. Sulaiman sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya Ra’san fi al-Hadits wa al-Ibadah,, Yahya b. Ma’in menilainya Tsiqah, al-Raziy menilainya Tsiqatun Shadduq. Penilaian ini menunjukkan bahwa Mu’tamir b. Sulaiman adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Mu’tamir b. Sulaiman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Mu’tamir b. Sulaiman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman.karena pernah satu negari dan satu masa disamping terdata memiliki hubungan guru dan murid juga terdata sebagai bapak dan anak. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman al-Tamimi.
5. Muhammad b. Abdul A’la
Nama lengkapnya adalah Muhammad b. Abdul A’la Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesepuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) wafat tahun 145 H. masuk dalam rijal Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Muhammad b. Abdul A’la menerima hadits dari Mu’tamir b. Sulaiman, Aban b. Yazid al-Athar, Ibrahim b. Sa’ad, Israil b. Yunus, Jarir b. Hazim, Jarir b. Abdul Hamid dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Muhammad b. Abdul A’la diantaranya adalah: al-Nasa’I, Ibrahim b. Marzuq al-Basriy, Ahmad b. Ibrahim, Ahmad b. Sanan al-Qattan, Ahmad b. Hanbal dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Muhammad b. Abdul A’la sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, Hafizdun, al-Dzahabiy menilainya diTsiqahkan oleh al-Raziy, al-Nasa’I menilainya Tsiqatun, Ibn Hibban juga memasukanyadalam orang-orang yang tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Muhammad b. Abdul A’la adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih,
Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, syimbol periwayatan ini dihukumi terjadinya pertmuan antara Abu Daud al-Thayalisi dengan Mu’tamir b. Sulaiman.
6. Al-Nasa’I
6. Hasil Analisis Sanad Hadits dan Diskusi lebih lanjut
Analisis pribadi periwayat dan simbol periwayatanya diatas telah memeperlihatkan bahwa sanad Hadits diatas yang menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit, memakai simbol periwayatan ‘an, selain pada Thabaqat kespuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) yaitu Muhammad b. Abdul A’la Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, akan tetapi dari mata rantai perawi-perawinya tidak ditemukan satupun yang Mudallis.
Cuma ada perbedaan ada pada pribadi Abi Utsman tentang penerimaan hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar , ada yang mengatkan melalui bapaknya seperti jalur Ahmad b. Hanbal, al-nasa’I dan Ibn Majah, sementara dari riwayat Ibn Hibban dijelaskan bahwa Abi Utsman menerima hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar, penulis memilih pada riwayat Ibn Hibban.
Wallahu A’lam.
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Hadits diatas menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit,
B. Letak hadits
Hadits dengan matan yang persis sama dengan hadits diatas diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut:
أخرج النسائي فقال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ويس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، اقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
C. Redaksi Hadits matan yang semakna
Selain Hadits dengan redaksi diatas, terdapat matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut. dalam hal ini ada tiga matan hadits yang semakna dengan hadits tersebut, yaitu diriwayatkan oleh Ahmad b. Hanbal dari Arim melalui jalur Mu’tamir, Abu Daud dari Ibn al-Mubarak, dan Ibn Hibban dari Imran b. Musa sama-sama melalui jalur Sulaiman al-Tamimi semua berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanad masing-masing adalah:
أخرج أَبُو دَاوُدَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
أخرج أحمد فقال: حدثنا عارم ثنا معتمر عن أبيه عن رجل عن أبيه عن معقل بن يسار ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : البقرة سنام القرآن وذروته نزل مع كل آية منها ثمانون ملكا واستخرجت { الله لا إله الا هو الحي القيوم } من تحت العرش فوصلت بها أو فوصلت بسورة البقرة ويس قلب القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
أخرج ابن حبان فقال: أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ السَّخْتِيَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس».
D. I’tibara al-Sanad
أن
عن
عن
عن
حدثنا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا
حدثنا حَدَّثَنَا حدثنا
حَدَّثَنَا
F. Analisis Sanad Hadits
Hadits yang diteliti sanadnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Nasa’I dari Muhammad b. Abdul A’la melalui Jalur Mu’tamir, yang berpangkal pada Ma’qil b. Yasar, Sanadnya adalah sebagai berikut: Data-data periwayatanya adalah sebagai berikut:
1. Ma’qil b. Yasar
Nama legkapnya adalah Ma’qil b. Yasar b. Abdullah al-Muzanni, Wafat setelah tahun 60 H. salah satu sahabat yang ikut bai’at al-Ridwan, masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Ma’qil b. Yasar menerima hadits dari Nabi, sementara murid-muridnya diantaranya adalah: Abu Utsman, Hasan al-Basri, Uqbah b. Maisarah dll.
2. Abu Utsman
Nama legkapnya adalah Sa’ad Abu Utsman, Ibn Hajar memasukanya dalam Tabaqat al-Wusta al-Tabi’in (Thabaqat ketiga) masuk dalam rijal Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah. Abu Utsman menerima hadits dari Ma’qil b. Yasar b. Abdullah, Anas b. Malik,Anas b. Jandal al-Basri. sementara murid-muridnya diantaranya adalah Sulaiman al-Tamimi saja.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Abu Utsman adalah sebagai berikut: Ibn Hajar menilainya “ Maqbul”, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah, penilaian ini menunjukkan bahwa Abu Utsman adalah orang yang adil tapi kurang dhabit sehingga haditsnya dapat dinilai hasan.
Dalam sanad ini Abu Utsman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Abu Utsman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar karena pernah satu negari dan satu masa, dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid, dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Abu Utsman dengan Ma’qil b. Yasar.
3. Sulaiman al-Tamimi
Nama legkapnya adalah Sulaiman b. Tharhan al-Tamimi, Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat keempat (Thabaqat tali al-Wustha min al-Tabi’in) Lahir tahun 46 H. wafat tahun 143 H. masuk dalam rijal al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Sulaiman al-Tamimi menerima hadits dari Abu Utsman, Ibrahim b. Sa’ad b. Abi Waqas, Ibrahim b. Abdullah, Anas b, Malik dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi, Syu’bah b. Hajjaj, Ibrahim b.Sa’ad, Hammad b. Zeid, Sufyan al-Tsauriy dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Sulaiman al-Tamimi sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya ahad al-Sadah, Yahya b. Ma’in menilainya kadang-kadang mentadliskan, Ibn Hibban memasukanya dalam orang-orang yang Tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Sa’ad b. Ibrahim adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Sulaiman al-Tamimi memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Sulaiman al-Tamimi sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman. karena pernah satu masa dan juga terdata memiliki hubungan guru dan murid. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Sulaiman al-Tamimi dengan Abu Utsman.
4. Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi
Nama lengkapnya adalah Mu’tamir b. Sulaiman al-Tamimi Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesembilan (Thabaqat Sighar ‘Atba’ al-Tabi’in) lahir 106 dan wafat tahun 187 H. masuk dalam rijal al-Bukhoriy, Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Mu’tamir menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi, Sa’ad b. Ibrahim, Habib b. Zaied, Aban b. Taghlib, Ibrahim b. Muhammad al-Muntasyar, Ibrahim b. Muslim al-Hijriy, Ibrahim b. Muhajir, Ibrahim b. Maisaroh dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Sulaiman al-Tamimi diantaranya adalah: Muhammad b. Abdul A’la, Ibrahim b. Sa’ad al-Zuhriy, Ibrahim b. Thahman, Ibrahim b. Mukhtar al-Raziy, Asad b. Musa, Abu Daud al-Thayalisi dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Mu’tamir b. Sulaiman sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, al-Dzahabiy menilainya Ra’san fi al-Hadits wa al-Ibadah,, Yahya b. Ma’in menilainya Tsiqah, al-Raziy menilainya Tsiqatun Shadduq. Penilaian ini menunjukkan bahwa Mu’tamir b. Sulaiman adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih.
Dalam sanad ini Mu’tamir b. Sulaiman memakai syimbol periwayatan ‘an, syimbol periwayatan ‘an bisa dihukumi sama dengan metode al-Sama’ (mendengar langsung dari gurunya), jika perawinya bukan seorang mudallis dan dimungkinkan terjadinya pertmuan. menurut data diatas, tidak ada kritikus hadits yang menilai Mu’tamir b. Sulaiman sebagai seorang mudallis.
Data diatas juga memungkinkan terjadinya pertemuan antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman.karena pernah satu negari dan satu masa disamping terdata memiliki hubungan guru dan murid juga terdata sebagai bapak dan anak. dengan demikian bisa dikatakan adanya persambungan sanad antara Mu’tamir b. Sulaiman dengan Sulaiman al-Tamimi.
5. Muhammad b. Abdul A’la
Nama lengkapnya adalah Muhammad b. Abdul A’la Ibn Hajar memasukanya pada Thabaqat kesepuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) wafat tahun 145 H. masuk dalam rijal Muslim, Abu Daud al-Tirmidzi, al-Nasa’I dan Ibn Majah.
Muhammad b. Abdul A’la menerima hadits dari Mu’tamir b. Sulaiman, Aban b. Yazid al-Athar, Ibrahim b. Sa’ad, Israil b. Yunus, Jarir b. Hazim, Jarir b. Abdul Hamid dan lain-lain. Sedangkan orang yang menerima hadits dari Muhammad b. Abdul A’la diantaranya adalah: al-Nasa’I, Ibrahim b. Marzuq al-Basriy, Ahmad b. Ibrahim, Ahmad b. Sanan al-Qattan, Ahmad b. Hanbal dan lain-lain.
Penilaian kritikus hadits terhadap pribadi Muhammad b. Abdul A’la sebagai berikut: Ibn hajar mengomentarinya Tsiqatun, Hafizdun, al-Dzahabiy menilainya diTsiqahkan oleh al-Raziy, al-Nasa’I menilainya Tsiqatun, Ibn Hibban juga memasukanyadalam orang-orang yang tsiqah. Penilaian ini menunjukkan bahwa Muhammad b. Abdul A’la adalah orang yang dhabit dan adil sehingga haditsnya dapat dinilai sahih,
Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, syimbol periwayatan ini dihukumi terjadinya pertmuan antara Abu Daud al-Thayalisi dengan Mu’tamir b. Sulaiman.
6. Al-Nasa’I
6. Hasil Analisis Sanad Hadits dan Diskusi lebih lanjut
Analisis pribadi periwayat dan simbol periwayatanya diatas telah memeperlihatkan bahwa sanad Hadits diatas yang menjadi landasan hukum bahwa, pahala membaca yasin sampai pada mayit, memakai simbol periwayatan ‘an, selain pada Thabaqat kespuluh (Thabaqat Kubbar al-Akhidz an ‘Atba’ al-Tabi’in) yaitu Muhammad b. Abdul A’la Dalam sanad ini Muhammad b. Abdul A’la memakai syimbol periwayatan Haddatsana, akan tetapi dari mata rantai perawi-perawinya tidak ditemukan satupun yang Mudallis.
Cuma ada perbedaan ada pada pribadi Abi Utsman tentang penerimaan hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar , ada yang mengatkan melalui bapaknya seperti jalur Ahmad b. Hanbal, al-nasa’I dan Ibn Majah, sementara dari riwayat Ibn Hibban dijelaskan bahwa Abi Utsman menerima hadits langsung dari Ma’qil b. Yasar, penulis memilih pada riwayat Ibn Hibban.
Wallahu A’lam.
Khutbah Jumat
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
َمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat
dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan
baik sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah
swt. mari kita senantiasa bertaqwa kepada
Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat
kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.Pada tahun ini dibulan Agustus umat islam Indonesia
dianugrahi dua hari yang sangat istemiwa, yang pertama adalah hari raya Idul
fitri pada tanggal 08-08-2013 seminggu kemudian pada tanggal 17-08-2013 kita
memperingati hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 68, pada kesempatan
yang mulya ini khatib ingin mengupas sedikit tentang menggapai substansi Idul
Fitri dan korelasinya dengan hari peringatan kemerdekaan Negara Republik
Indonesia.
Sudah berulang kali kita merayakan Idul
Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua umat Islam. Pada
hari itu kita mengeksperesikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan
kemenangan setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian
diri dengan berpuasa. Status kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembeli
dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, tentu saja kemenangan yang
dapatkan dalam idul fitri adalah kemenangan ruhani.
Dihari yang fitri itu setiap umat islam
dikembalikan pada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati,
kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamanya yang semakin dekat denga
Allah swt. Dan terwujud denga tali kasih kepada setiap makluknya. Bagi kafilah
ramadhan idul fitri merupakan titik balik ketika manusia diarahkan untuk
menggapai kembali entitas dirinya.hakikat idul fitri harus diwujudkan melalui
peningkatan kualitas ibadah ritual dan social dalam agenda hidup seorang
muslim.
Idul Fitri Artinya kembali kepada
kesucian. Melahirkan manusia fitrah yang selalu ada dalam kesadaran ketuhanan.
Sudah tentu kesucian itu bisa diraih manakala kita bisa terus-menerus
mengorbitkan semangat ramadhan pada bulan-bulan setelahnya. Sebentuk semangat
yang terus melonjakan kualitas rohani serta tidak mengenal lelah memupuk
hubungan vertical yang harmonis dengan sang halik, bukan hanya dibulan ramadhan
saja rajin beribadah akan tetapi adanya semangat untuk selalu mempertahankanya
disetiap desah nafas kita hingga kita dipanggil mengahadapnya.
Sebagai mana hadits diriwayatkan oleh
Muslim dari A’isyah bahwa Rasullulah saw. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ
تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»،
Artinya: Amal
yang paling dicintai oleh Allah swt. Adalah amal yang terus-menerus meskipun
sedikit. (HR.Muslim) juz 1 hlm. 541.
Dengan kata lain idul fitri berkonskensi
pada ruang jiwa yang bening (tazkiyatun nafs) yang diindikasikan dengan
terciptanya kontinuitas pesan moral dari puasa itu sendiri. Pesan- pesan itu
adalah Pertama : pesan pencerahan, Puasa dan idul Fitri memberikan wawasan luas
bagi proses pengayaan kesadaran batin, pencerdasan nalar (fikr) sehinga pada
ahirnya kita bias bertanggung jawab, bertopang pada pengetahuan dan terbimbing
pancaran nilai ilahi.
Kedua : pesan perubahan. Bagaiman kita
yang telah mengalami perubahan melalui puasa bisa mengubah perilaku kearah yang
lebih baik. Hari-hari yang berlalu dihiasi dengan berbagai evalusi diri secara
maksimal dan komprehensif. Perubahan itu ditandai dengan pribadi-pribadi yang
ksatria untuk melakukan dialog intraktif
dengan diri sendiri.
Ketiga : pesan pembebasan. Artinya puasa
dan idul fitri hendaknya membebaskan dan memerdekakan diri dan social dari
kungkungan jerat individualisme (mementingakan diri sendiri) kearah sosialisme
religious (turut merasakan) penderitaan orang lain. Kesalihan social inilah
manefestasi utama dari idul fitri. Kesalihan dalam format demikian akan melahirkan
akses bagi terbentuknya pribadi muttaqin sebagai terminal ahir dari puasa itu
sendiri. Sebuah pribadi yang ditandai dengan relasi ritual yang kokoh dan
relasi horizontal yang luas, sebagaiman firman Allah (Qs. Ali Imran : 112)
Manusia yang dilahirkan dari rahim idul
fitri adalah manusia yang tercerahkan, dia mampu mengobjektivikasi kesalihan
personal dan spiritual kepada kesalihan public secara luas. idul fitri dalam
kontek tersebut tidak hanya dihormati secara lisan namun juga dimulyakan dalam
setiap perilaku. Inilah jenis kesalihan yang dibutuhkan pada saat ini. Jika selama
ini kita sudah merasa salih secara spiritual dan individual, ujian selanjutnya
justru ada pada penterjemahan hal tersebut pada kesalihan social.
Spirit idul fitri menghendaki kita
menjadi manusia-manusia yang terbebaskan, menjadi manusia-manusia yang berhasil
memerdekakan dirinya dari segala bentuk belenggu, mualai dari belenggu dosa,
dendam antara sesama, ketertindasan dll. Impresi idul fitri berujung pada
kemerdekaan umat dari segala penjajahan fisik material maupun mental spiritual,
inilah korelasi antara idul fitri dan peringatan hari kemerdekaan Negara
Repulik Indonesia.
Seorang mu’min yang cerdas dia tidak
akan terlena dengan hari kemenangan yang dirayakan setiap 1 Syawal saja, dia
juga tidak bangga dengan hari kemerdekaan pada tgl 17 Agustus saja, akan tetapi
dia selalu waspada dan (bermuhasabah) mengintropeksi diri dengan tetap
mempertahankan kemenangan dan selalu memerdekakan jiwanya dengan tidak
mengikuti keinginan hawa nafsu. Nabi menjelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatka oleh Imam Ahmad, Ibn Majah al-Tirmizdi dan al-Hakim, semua riwayat
itu berpangkal pada sahabat Sydad b. Uais, Nabi bersabda:
قَالَ: «الْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ
نَفْسَهُ وَهَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: orang yang cerdas adalah orang
yang selalu mengintropeksi diri dan berwawasan ahirat, dan orang yang lemah
adalah orang yang selalaui mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan
ingin mendapatkan rahamat dari Allah swt.
Semuga kita senantiasi diberi
pertolongan dan petunjuk oleh Allah swt. Untuk menjadi hambanya yang selalu
mempertahankan jiwa fitri bukan hanya dihari raya idul fitri saja tetapi selalu
kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita semakin bernilai
dihadapanya.
بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم
وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم , وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah Jumat
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
َمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat
dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan
baik sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah
swt. mari kita senantiasa bertaqwa kepada
Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat
kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.Pada tahun ini dibulan Agustus umat islam Indonesia
dianugrahi dua hari yang sangat istemiwa, yang pertama adalah hari raya Idul
fitri pada tanggal 08-08-2013 seminggu kemudian pada tanggal 17-08-2013 kita
memperingati hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 68, pada kesempatan
yang mulya ini khatib ingin mengupas sedikit tentang menggapai substansi Idul
Fitri dan korelasinya dengan hari peringatan kemerdekaan Negara Republik
Indonesia.
Sudah berulang kali kita merayakan Idul
Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua umat Islam. Pada
hari itu kita mengeksperesikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan
kemenangan setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian
diri dengan berpuasa. Status kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembeli
dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, tentu saja kemenangan yang
dapatkan dalam idul fitri adalah kemenangan ruhani.
Dihari yang fitri itu setiap umat islam
dikembalikan pada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati,
kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamanya yang semakin dekat denga
Allah swt. Dan terwujud denga tali kasih kepada setiap makluknya. Bagi kafilah
ramadhan idul fitri merupakan titik balik ketika manusia diarahkan untuk
menggapai kembali entitas dirinya.hakikat idul fitri harus diwujudkan melalui
peningkatan kualitas ibadah ritual dan social dalam agenda hidup seorang
muslim.
Idul Fitri Artinya kembali kepada
kesucian. Melahirkan manusia fitrah yang selalu ada dalam kesadaran ketuhanan.
Sudah tentu kesucian itu bisa diraih manakala kita bisa terus-menerus
mengorbitkan semangat ramadhan pada bulan-bulan setelahnya. Sebentuk semangat
yang terus melonjakan kualitas rohani serta tidak mengenal lelah memupuk
hubungan vertical yang harmonis dengan sang halik, bukan hanya dibulan ramadhan
saja rajin beribadah akan tetapi adanya semangat untuk selalu mempertahankanya
disetiap desah nafas kita hingga kita dipanggil mengahadapnya.
Sebagai mana hadits diriwayatkan oleh
Muslim dari A’isyah bahwa Rasullulah saw. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ
تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»،
Artinya: Amal
yang paling dicintai oleh Allah swt. Adalah amal yang terus-menerus meskipun
sedikit. (HR.Muslim) juz 1 hlm. 541.
Dengan kata lain idul fitri berkonskensi
pada ruang jiwa yang bening (tazkiyatun nafs) yang diindikasikan dengan
terciptanya kontinuitas pesan moral dari puasa itu sendiri. Pesan- pesan itu
adalah Pertama : pesan pencerahan, Puasa dan idul Fitri memberikan wawasan luas
bagi proses pengayaan kesadaran batin, pencerdasan nalar (fikr) sehinga pada
ahirnya kita bias bertanggung jawab, bertopang pada pengetahuan dan terbimbing
pancaran nilai ilahi.
Kedua : pesan perubahan. Bagaiman kita
yang telah mengalami perubahan melalui puasa bisa mengubah perilaku kearah yang
lebih baik. Hari-hari yang berlalu dihiasi dengan berbagai evalusi diri secara
maksimal dan komprehensif. Perubahan itu ditandai dengan pribadi-pribadi yang
ksatria untuk melakukan dialog intraktif
dengan diri sendiri.
Ketiga : pesan pembebasan. Artinya puasa
dan idul fitri hendaknya membebaskan dan memerdekakan diri dan social dari
kungkungan jerat individualisme (mementingakan diri sendiri) kearah sosialisme
religious (turut merasakan) penderitaan orang lain. Kesalihan social inilah
manefestasi utama dari idul fitri. Kesalihan dalam format demikian akan melahirkan
akses bagi terbentuknya pribadi muttaqin sebagai terminal ahir dari puasa itu
sendiri. Sebuah pribadi yang ditandai dengan relasi ritual yang kokoh dan
relasi horizontal yang luas, sebagaiman firman Allah (Qs. Ali Imran : 112)
Manusia yang dilahirkan dari rahim idul
fitri adalah manusia yang tercerahkan, dia mampu mengobjektivikasi kesalihan
personal dan spiritual kepada kesalihan public secara luas. idul fitri dalam
kontek tersebut tidak hanya dihormati secara lisan namun juga dimulyakan dalam
setiap perilaku. Inilah jenis kesalihan yang dibutuhkan pada saat ini. Jika selama
ini kita sudah merasa salih secara spiritual dan individual, ujian selanjutnya
justru ada pada penterjemahan hal tersebut pada kesalihan social.
Spirit idul fitri menghendaki kita
menjadi manusia-manusia yang terbebaskan, menjadi manusia-manusia yang berhasil
memerdekakan dirinya dari segala bentuk belenggu, mualai dari belenggu dosa,
dendam antara sesama, ketertindasan dll. Impresi idul fitri berujung pada
kemerdekaan umat dari segala penjajahan fisik material maupun mental spiritual,
inilah korelasi antara idul fitri dan peringatan hari kemerdekaan Negara
Repulik Indonesia.
Seorang mu’min yang cerdas dia tidak
akan terlena dengan hari kemenangan yang dirayakan setiap 1 Syawal saja, dia
juga tidak bangga dengan hari kemerdekaan pada tgl 17 Agustus saja, akan tetapi
dia selalu waspada dan (bermuhasabah) mengintropeksi diri dengan tetap
mempertahankan kemenangan dan selalu memerdekakan jiwanya dengan tidak
mengikuti keinginan hawa nafsu. Nabi menjelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatka oleh Imam Ahmad, Ibn Majah al-Tirmizdi dan al-Hakim, semua riwayat
itu berpangkal pada sahabat Sydad b. Uais, Nabi bersabda:
قَالَ: «الْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ
نَفْسَهُ وَهَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: orang yang cerdas adalah orang
yang selalu mengintropeksi diri dan berwawasan ahirat, dan orang yang lemah
adalah orang yang selalaui mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan
ingin mendapatkan rahamat dari Allah swt.
Semuga kita senantiasi diberi
pertolongan dan petunjuk oleh Allah swt. Untuk menjadi hambanya yang selalu
mempertahankan jiwa fitri bukan hanya dihari raya idul fitri saja tetapi selalu
kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita semakin bernilai
dihadapanya.
بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم
وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم , وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah Jumat
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
َمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat
dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan
baik sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah
swt. mari kita senantiasa bertaqwa kepada
Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat
kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.Pada tahun ini dibulan Agustus umat islam Indonesia
dianugrahi dua hari yang sangat istemiwa, yang pertama adalah hari raya Idul
fitri pada tanggal 08-08-2013 seminggu kemudian pada tanggal 17-08-2013 kita
memperingati hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 68, pada kesempatan
yang mulya ini khatib ingin mengupas sedikit tentang menggapai substansi Idul
Fitri dan korelasinya dengan hari peringatan kemerdekaan Negara Republik
Indonesia.
Sudah berulang kali kita merayakan Idul
Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua umat Islam. Pada
hari itu kita mengeksperesikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan
kemenangan setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian
diri dengan berpuasa. Status kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembeli
dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, tentu saja kemenangan yang
dapatkan dalam idul fitri adalah kemenangan ruhani.
Dihari yang fitri itu setiap umat islam
dikembalikan pada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati,
kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamanya yang semakin dekat denga
Allah swt. Dan terwujud denga tali kasih kepada setiap makluknya. Bagi kafilah
ramadhan idul fitri merupakan titik balik ketika manusia diarahkan untuk
menggapai kembali entitas dirinya.hakikat idul fitri harus diwujudkan melalui
peningkatan kualitas ibadah ritual dan social dalam agenda hidup seorang
muslim.
Idul Fitri Artinya kembali kepada
kesucian. Melahirkan manusia fitrah yang selalu ada dalam kesadaran ketuhanan.
Sudah tentu kesucian itu bisa diraih manakala kita bisa terus-menerus
mengorbitkan semangat ramadhan pada bulan-bulan setelahnya. Sebentuk semangat
yang terus melonjakan kualitas rohani serta tidak mengenal lelah memupuk
hubungan vertical yang harmonis dengan sang halik, bukan hanya dibulan ramadhan
saja rajin beribadah akan tetapi adanya semangat untuk selalu mempertahankanya
disetiap desah nafas kita hingga kita dipanggil mengahadapnya.
Sebagai mana hadits diriwayatkan oleh
Muslim dari A’isyah bahwa Rasullulah saw. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ
تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»،
Artinya: Amal
yang paling dicintai oleh Allah swt. Adalah amal yang terus-menerus meskipun
sedikit. (HR.Muslim) juz 1 hlm. 541.
Dengan kata lain idul fitri berkonskensi
pada ruang jiwa yang bening (tazkiyatun nafs) yang diindikasikan dengan
terciptanya kontinuitas pesan moral dari puasa itu sendiri. Pesan- pesan itu
adalah Pertama : pesan pencerahan, Puasa dan idul Fitri memberikan wawasan luas
bagi proses pengayaan kesadaran batin, pencerdasan nalar (fikr) sehinga pada
ahirnya kita bias bertanggung jawab, bertopang pada pengetahuan dan terbimbing
pancaran nilai ilahi.
Kedua : pesan perubahan. Bagaiman kita
yang telah mengalami perubahan melalui puasa bisa mengubah perilaku kearah yang
lebih baik. Hari-hari yang berlalu dihiasi dengan berbagai evalusi diri secara
maksimal dan komprehensif. Perubahan itu ditandai dengan pribadi-pribadi yang
ksatria untuk melakukan dialog intraktif
dengan diri sendiri.
Ketiga : pesan pembebasan. Artinya puasa
dan idul fitri hendaknya membebaskan dan memerdekakan diri dan social dari
kungkungan jerat individualisme (mementingakan diri sendiri) kearah sosialisme
religious (turut merasakan) penderitaan orang lain. Kesalihan social inilah
manefestasi utama dari idul fitri. Kesalihan dalam format demikian akan melahirkan
akses bagi terbentuknya pribadi muttaqin sebagai terminal ahir dari puasa itu
sendiri. Sebuah pribadi yang ditandai dengan relasi ritual yang kokoh dan
relasi horizontal yang luas, sebagaiman firman Allah (Qs. Ali Imran : 112)
Manusia yang dilahirkan dari rahim idul
fitri adalah manusia yang tercerahkan, dia mampu mengobjektivikasi kesalihan
personal dan spiritual kepada kesalihan public secara luas. idul fitri dalam
kontek tersebut tidak hanya dihormati secara lisan namun juga dimulyakan dalam
setiap perilaku. Inilah jenis kesalihan yang dibutuhkan pada saat ini. Jika selama
ini kita sudah merasa salih secara spiritual dan individual, ujian selanjutnya
justru ada pada penterjemahan hal tersebut pada kesalihan social.
Spirit idul fitri menghendaki kita
menjadi manusia-manusia yang terbebaskan, menjadi manusia-manusia yang berhasil
memerdekakan dirinya dari segala bentuk belenggu, mualai dari belenggu dosa,
dendam antara sesama, ketertindasan dll. Impresi idul fitri berujung pada
kemerdekaan umat dari segala penjajahan fisik material maupun mental spiritual,
inilah korelasi antara idul fitri dan peringatan hari kemerdekaan Negara
Repulik Indonesia.
Seorang mu’min yang cerdas dia tidak
akan terlena dengan hari kemenangan yang dirayakan setiap 1 Syawal saja, dia
juga tidak bangga dengan hari kemerdekaan pada tgl 17 Agustus saja, akan tetapi
dia selalu waspada dan (bermuhasabah) mengintropeksi diri dengan tetap
mempertahankan kemenangan dan selalu memerdekakan jiwanya dengan tidak
mengikuti keinginan hawa nafsu. Nabi menjelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatka oleh Imam Ahmad, Ibn Majah al-Tirmizdi dan al-Hakim, semua riwayat
itu berpangkal pada sahabat Sydad b. Uais, Nabi bersabda:
قَالَ: «الْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ
نَفْسَهُ وَهَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: orang yang cerdas adalah orang
yang selalu mengintropeksi diri dan berwawasan ahirat, dan orang yang lemah
adalah orang yang selalaui mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan
ingin mendapatkan rahamat dari Allah swt.
Semuga kita senantiasi diberi
pertolongan dan petunjuk oleh Allah swt. Untuk menjadi hambanya yang selalu
mempertahankan jiwa fitri bukan hanya dihari raya idul fitri saja tetapi selalu
kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita semakin bernilai
dihadapanya.
بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم
وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم , وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Asma' Sungai Rajeh
1001 MANFAAT ASMA SUNGE RAJEH
KI NURJATI
Ni deh ane share beberapa dari manfaat ASR. Karena selama
ini menurut ane belum pernah sekalipun di share oleh master2 ASR secara terbuka
1. Pengasihan Umum : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian tiupkan dan diusapkan ke
wajah.
2. Pengasihan Khusus : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar
rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’
sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan.
Ulangi amalan ini selama 3 hari hingga berhasil dengan sempurna. Dan ketika
akan bertemu dengan orang tersebut, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
3. Keberanian Luar Biasa : Setiap akan berhadapan dengan
musuh atau ketika akan mau keluar rumah, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas.
4. Pelarisan Usaha Apa Saja : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada pasir atau gula pasir, lalu tiupkan. Kemudian terbarkanlah pasir atau gula
pasir tersebut didepan tempat usaha.
5. Kewibawaan Tingkat Tinggi : Setiap akan berangkat
bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.
6. Meredam Amarah Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca
Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu
tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak
3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
7. Kekuatan Pukulan Tangan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian tiupkan dan
pukulkanlah kearah musuh atau benda keras.
8. Menghancurkan Benda Keras : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali
sambil menahan nafas, lalu ditiupkan ke arah benda keras yang akan dihancurkan
tersebut.
9. Kebal Pukulan Tangan Dan Benda Tumpul : Asma’ dibaca
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.
10. Mengusir Musuh Lewat Bentakan : Asma’ dibaca sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, lalu bentaklah musuh atau lawan tersebut.
11. Terlihat Seperti Raksasa Ketika Akan Dikeroyok : Asma’
dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, kemudian tiupkan ke arah musuh
yang hendak mengeroyok atau mengepung.
12. Menghentikan Pendarahan Pada
Luka : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke
daerah tubuh yang luka atau berdarah.
13. Mendapatkan Pinjaman Uang : Asma’ dibaca sebanyak 41
kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
14. Memudahkan Seseorang Sakratul Maut : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak
1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian teteskanlah air putih itu
secara perlahan – lahan pada mulut orang yang sulit meninggal atau sakratul
maut tersebut.
15. Naik Kendaraan Umum Tanpa Bayar (Saat Terdesak) : Asma’
dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian
tiupkan dan usapkan ke tubuh serta wajah. Lalu bacalah kembali Asma’ sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah kondektur atau supir kendaraan
umum tersebut.
16. Menambah Kekuatan Fisik : Setiap akan mau melakukan
pekerjaan bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada segelas air
putih, lalu tiupkan dan minumlah hingga habis.
17. Menambah Keampuhan Ilmu : Setiap selesai sholat fardhu,
bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.
18. Melumpuhkan Ilmu Kesaktian : Asma’ dibaca sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh yang punya ilmu kesaktian
tersebut.
19. Selamat Dari Razia Petugas : Setiap akan berangkat
bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali. Dan jika bertemu dengan
razia Polisi atau petugas keamanan lainnya, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, kemudian tiupkan ke arah para petugas razia
tersebut.
20. Selamat Dari Serangan Senjata Tajam, Senjata Api Dan Bom
: Setiap akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.
21. Selamat Dari Kecelakaan Darat, Laut Dan Udara : Setiap
akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.
22. Menundukkan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali diluar
rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai membaca Asma’
sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan.
Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’ sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
23. Menagih Hutang Dan Pinjaman : Asma’ dibaca sebanyak 41
kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
24. Meluluhkan Hati Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak 41
kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
25. Menetralisir Tempat Angker : Asma’ dibaca sebanyak 41
kali pada garam dan pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke garam dan pasir tersebut. Kemudian tebarkanlah garam dan pasir
tersebut ke sekeliling atau ke seluruh lokasi yang hendak dinetralkan.
26. Menetralisir Tempat Yang Dipasangi Sihir : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada garam dan pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1
kali, tiupkanlah ke garam dan pasir tersebut. Kemudian tebarkanlah garam dan
pasir tersebut ke sekeliling atau ke seluruh lokasi yang hendak dinetralkan.
27. Menangkal Sihir Dan Ilmu Hitam : Setiap akan berangkat
bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.
28. Mengusir Makhluk Ghaib : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada satu botol air mineral yang sudah dicampuri garam. Setiap selesai membaca
Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian percik –
percikkanlah air mineral itu pada tempat yang menjadi kediaman atau markasnya
para makhluk ghaib yang dianggap mengganggu.
29. Ditakuti Makhluk Ghaib : Setiap akan berangkat bepergian
melewati kawasan yang angker, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan
nafas.
30. Mengobati Diri Sendiri : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumlah air putih itu sampai habis.
31. Mengobati Seseorang Terkena Sihir Dan Gangguan Jin :
Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih yang sudah dicampuri
garam. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih
tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu sampai habis.
32. Mengobati Penyakit Medis Dan Non Medis : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada satu botol air mineral. Setiap selesai membaca Asma’
sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian minumkanlah air
mineral itu sampai habis.
33. Mengobati Penyakit Parah : Asma’ dibaca sebanyak 111
kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air hujan itu
dan sebagiannya lagi dicampurkan ke dalam air mandi untuk membasuh seluruh
anggota badan.
34. Pagaran Ghaib Rumah Dan Lahan : Asma’ dibaca sebanyak
333 kali pada pasir, lalu tiupkan. Kemudian terbarkanlah pasir tersebut
disekeliling tempat yang akan dipagari.
35. Menghentikan Badai Dan Angin Topan : Asma’ dibaca
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah badai atau angin
topan (angin puting beliung).
36. Menghentikan Ombak Ganas : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah ombak laut yang sedang mengganas
atau bergelombang besar.
37. Menundukkan Hewan Buas : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah hewan buas atau hewan yang sedang
mengamuk.
38. Mengusir Tamu Tak Di Undang :
Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah tamu
yang akan di usir tersebut.
39. Menahan Mendung : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas, lalu tiupkan ke arah langit yang sedang mendung atau hujan.
40. Mendatangkan Hujan : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali pada tiap
– tiap penjuru mata angin, kemudian tiupkan.
41. Agar Disayang Majikan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian berikanlah air putih tersebut secara
diam – diam kepada majikan atau dicampurkan ke minuman lain agar di minum
olehnya. Dan ketika akan bertemu dengan majikan, bacalah kembali Asma’ sebanyak
3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
42. Mempermudah Persalinan Ibu Melahirkan : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak
1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu
kepada wanita yang akan melahirkan.
43. Menghilang Dari Pandangan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak
3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh. Kemudian Asma’ dibaca
kembali sebanyak 3 kali sambil menahan nafas pada kedua telapak tangan, lalu
tiupkan dan usapkan ke tubuh serta wajah.
44. Mengisi Azimat Dan Sejenisnya :
Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada Azimat atau benda yang akan di isi. Setiap
selesai membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke Azimat atau benda yang
akan di isi tersebut.
45. Menghantam Musuh Dari Jarak Jauh : Asma’ dibaca sebanyak
41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil dengan sempurna.
46. Mengisi Kekuatan Pada Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak
41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada
orang yang akan di isi.
47. Menetralisir Racun Dan Sejenisnya : Asma’ dibaca
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke makanan, minuman atau
benda yang dianggap mengandung racun dan sejenisnya.
48. Mendapat Kepercayaan Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak
41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
49. Mengembalikan Barang Hilang : Asma’ dibaca sebanyak 41
kali pada segelas air putih yang sudah dicampuri garam. Setiap selesai membaca
Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian percik –
percikkanlah air itu di sekitar tempat lokasi hilangnya barang.
50. Mempertajam Indera Ke – 6 :
Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari diluar rumah sambil menatap
bayangan wajah pada genangan air atau pada cermin tanpa berkedip sedikit pun.
Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada titik antara
kedua mata (Cakra ‘Aiinun). Ulangi amalan ini selama 7 malam hingga berhasil
dengan sempurna.
51. Mempengaruhi Pikiran Seseorang : Asma’ dibaca sebanyak
41 kali diluar rumah, sambil menghadap rumah orang yang dituju. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan / terawanglah wajah orang tersebut,
lalu tiupkan. Dan ketika akan bertemu dengan orang tersebut, baca kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
52. Memulangkan Seseorang Yang Minggat : : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali diluar rumah, sambil menghadap ke arah tempat orang itu pergi
pertama kali. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 10 kali, bayangkan /
terawanglah wajah orang tersebut, lalu tiupkan. Kemudian Asma’ dibaca kembali
sebanyak 333 kali sambil menahan nafas pada bekas pakaiannya, lalu tiupkan.
Kemudian gantunglah bekas pakaiannya tersebut di depan pintu masuk kamarnya
atau di atas tempat tidurnya.
53. Pengobatan Jarak Jauh : Asma’
dibaca sebanyak 41 kali, sambil membayangkan atau menerawang wajah orang yang
dituju. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali, lalu tiupkan ke arah
bayangan wajah orang tersebut.
54. Kuat Seks Berjam – Jam : Asma’
dibaca sebanyak 1.000 kali pada segelas madu yang sudah dicampuri dengan
sebutir telur ayam kampung. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali,
tiupkanlah ke madu tersebut. Kemudian minumlah madu itu hingga habis setiap
akan mau tidur. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil dengan
sempurna.
55. Meningkatkan Nafsu Birahi Pasangan : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak
1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu
kepada Si suami / istri sampai habis sebelum akan melakukan hubungan badan
(bersetubuh).
56. Mengubah Rasa Makanan Dan Minuman : Asma’ dibaca
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah makanan atau minuman
yang akan di ubah rasanya.
57. Menutup Tempat Ramai : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah tempat atau kedai yang akan dibuat
sepi dari pengunjung.
58. Mengusir Hama Pengganggu : Asma’ dibaca sebanyak 1.111
kali pada pasir. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke
pasir tersebut. Kemudian terbarkanlah pasir itu disekitar tempat / kebun yang
terdapat hama pengganggu.
59. Ketenangan Batin Dan Pikiran : Setiap selesai sholat
fardhu, bacalah Asma’ sebanyak 7 kali.
60. Memperkuat Aura Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 111 kali
setelah selesai sholat Maghrib, lalu tiupkan pada kedua telapak tangan dan
usapkan ke seluruh tubuh.
61. Mengatasi Kendaraan Mogok : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah kendaraan yang sedang mogok jalan.
62. Merontokkan Susuk : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas, lalu tiupkan ke arah bagian tubuh orang yang memakai susuk
tersebut.
63. Mengatasi Anak Rewel : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada
anak yang suka rewel tersebut.
64. Menarik Rezeki Dari Segala Arah : Setiap jam 6 pagi,
bacalah Asma’ sebanyak 9 kali pada tiap – tiap penjuru mata angin, kemudian
tiupkan.
65. Mendongkrak Perolehan Ikan : Asma’ dibaca sebanyak 7
kali, lalu tiupkan ke arah umpan yang akan digunakan untuk memancing atau
menangkap ikan.
66. Kirim SMS Tanpa Pulsa (Saat Terdesak) : Asma’ dibaca
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah Handphone (HP).
67. Menghilangkan Penyakit Demam
Panggung : Setiap akan berhadapan dengan orang ramai atau sebelum naik ke atas
panggung, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas. Dan ketika sudah
naik ke atas panggung, bacalah kembali Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan
nafas, lalu tiupkan ke arah para hadirin.
68. Memenangkan Persidangan : Selama dalam perjalanan menuju
tempat persidangan, bacalah Asma’ sebanyak – banyaknya. Dan ketika sudah
berhadapan dengan para hakim dan jaksa pengadilan, bacalah kembali Asma’
sebanyak 3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah mereka.
69. Menaikkan Jenjang Karir : Setiap
akan berhadapan atau bertemu dengan bos / pemimpin, bacalah Asma’ sebanyak 3
kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arahnya.
70. Menetralisir Rasa Panas Minyak Goreng : Setiap akan mau
memasak, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas.
71. Mempercepat Surutnya Air Banjir : Asma’ dibaca sebanyak
3 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah ujung air banjir atau sungai.
72. Mengeraskan Benda Lunak : Asma’ dibaca sebanyak 7 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah benda lunak tersebut.
73. Mengangkat Benda Berat : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, kemudian angkatlah benda yang berat tersebut.
74. Memindahkan Penyakit Ke Telur : Asma’ dibaca sebanyak 111
kali sambil menggosok – gosokkan telur ayam ke daerah tubuh yang sakit. Setelah
selesai, lalu tiupkan ke arah telur ayam tersebut dan kemudian pecahkan.
75. Kekebalan Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas, kemudian tusuklah anggota tubuh dengan jarum, pisau, pedang dan
berbagai senjata tajam lainnya.
76. Mengisi Kekebalan Tubuh : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali
pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu kepada
orang yang akan di isi kekebalan tubuh. Setelah 15 menit, lalu cobalah tusukkan
anggota tubuh orang tersebut dengan jarum, pisau, pedang dan berbagai senjata
tajam lainnya.
77. Melumpuhkan Badan Musuh : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah musuh.
78. Menghipnotis Seseorang : Asma’
dibaca sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah orang yang
akan di hipnotis tersebut atau tepuklah bahu kirinya.
79. Memisahkan Pasangan Selingkuh :
Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada satu botol air mineral. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air mineral tersebut. Kemudian
berikanlah air putih tersebut secara diam – diam kepada orang yang suka
berselingkuh tersebut atau dicampurkan ke minuman lain agar di minum olehnya.
80. Pengasihan Tingkat Tinggi :
Asma’ dibaca sebanyak 111 kali setiap tengah malam, lalu tiupkan pada kedua
telapak tangan dan usapkan ke seluruh tubuh.
81. Mempercepat Penjualan Tanah Dan
Rumah : Asma’ dibaca sebanyak 333 kali pada 1 kg gula pasir. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 111 kali, tiupkanlah ke gula pasir tersebut. Kemudian
terbarkanlah gula pasir itu di sekitar lokasi tanah atau rumah yang hendak di
jual.
82. Mengisi Aura Kecantikan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada 7 kuntum bunga – bunga harum yang masih segar, lalu tiupkan. Kemudian
campurkanlah bunga – bunga itu ke dalam air yang digunakan untuk mandi junub
(mandi wajib) oleh wanita yang ingin tampil cantik tersebut.
83. Mengisi Aura Ketampanan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada satu botol minyak wangi non alkohol, lalu tiupkan. Kemudian campurkanlah
minyak wangi itu itu ke dalam air yang digunakan untuk mandi junub (mandi
wajib) oleh pria yang ingin tampil tampan tersebut.
84. Menarik Benda Pusaka : Asma’
dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari di depan lokasi tersimpannya benda
pusaka. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada lokasi
tempat benda pusaka tersebut. Ulangi amalan ini selama 3 malam hingga berhasil
dengan sempurna.
85. Mengobati Hewan Sakit : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air putih itu
kepada hewan yang sakit tersebut dan sebagian lagi dicampurkan ke dalam air
yang digunakan untuk mandinya.
86. Selamat Dari Jeratan Hukum : Asma’ dibaca sebanyak 111
kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah air putih itu sampai
habis.
87. Dijaga Malaikat Al – Khidhir : Setiap akan berangkat
bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil menahan nafas di
depan pintu.
88. Dikawal Macan Ghaib : Setiap
akan berangkat bepergian kemana saja, bacalah Asma’ sebanyak 3 kali sambil
menahan nafas di depan pintu.
89. Menarik Ilmu Para Leluhur :
Asma’ dibaca sebanyak 1.000 kali pada malam hari di depan makam leluhur. Setiap
selesai membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah pada makam leluhur
tersebut. Ulangi amalan ini selama 3 malam hingga berhasil dengan sempurna.
90. Memperbaiki Kerusakan Barang Elektronik : Asma’ dibaca
sebanyak 1.000 kali pada barang elektronik yang sedang rusak. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah ke barang elektronik tersebut.
Kemudian tutuplah barang elektronik itu dengan kain mori warna putih, dan
diamkan selama 1 malam hingga benar – benar kembali baik.
91. Memiliki Daya Lembu Sakilan :
Asma’ dibaca sebanyak 3.333 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca
Asma’ sebanyak 100 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumlah
air hujan itu hingga habis. Ulangi amalan ini selama 7 hari hingga berhasil
dengan sempurna.
92. Mendapatkan Keturunan : Asma’ dibaca sebanyak 41 kali
pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak 1 kali,
tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah air hujan itu kepada
suami dan istri sampai habis sebelum akan melakukan hubungan badan
(bersetubuh).
93. Memenangkan Pemilihan Pejabat :
Asma’ dibaca sebanyak 41 kali pada segelas air putih. Setiap selesai membaca
Asma’ sebanyak 1 kali, tiupkanlah ke air putih tersebut. Kemudian minumkanlah
air putih itu kepada orang yang akan ikut pemilihan pejabat tersebut. Kemudian
Asma’ dibaca kembali sebanyak 111 kali pada sebuah cincin, lalu tiupkan. Dan
suruhlah orang tersebut mengenakan cincin itu kemana saja dia pergi selama masa
pemilihan pejabat.
94. Benteng Dari Serangan Jin Dan Manusia : Setiap akan
berangkat bepergian kemana saja, setiap akan tidur dan setiap akan beraktifitas,
bacalah Asma’ sebanyak 3 kali.
95. Memenangkan Perlombaan : Asma’
dibaca sebanyak 1.000 kali sebelum akan mengikuti perlombaan. Setiap selesai
membaca Asma’ sebanyak 100 kali, bayangkan / terawanglah hadiah perlombaan yang
ingin didapatkan, lalu tiupkan.
96. Meredakan Pertengkaran : Asma’ dibaca sebanyak 3 kali
sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke arah orang yang sedang bertengkar.
97. Memakbulkan Ucapan : Setiap akan
mau berbicara dengan seseorang, bacalah Asma’ sebanyak 7 kali sambil menahan
nafas.
98. Mengobati Seseorang Yang Kesurupan : Asma’ dibaca
sebanyak 7 kali sambil menahan nafas, lalu tiupkan ke ubun – ubun kepala atau
ke arah orang yang sedang kesurupan tersebut.
99. Mengisi Keselamatan Lahir Dan Batin : Asma’ dibaca
sebanyak 41 kali pada segelas air hujan. Setiap selesai membaca Asma’ sebanyak
1 kali, tiupkanlah ke air hujan tersebut. Kemudian minumkanlah sebagian air
hujan itu kepada orang yang akan di isi tersebut dan sebagian lagi dicampurkan
ke dalam air yang digunakan untuk mandinya.
100. Dan berbagai manfaat lainnya, sesuai dengan niat dan
tujuan Anda.
Langganan:
Komentar (Atom)