Jumat, 13 September 2013

Khutbah Jumat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
 َمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah swt. mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.Pada tahun ini dibulan Agustus umat islam Indonesia dianugrahi dua hari yang sangat istemiwa, yang pertama adalah hari raya Idul fitri pada tanggal 08-08-2013 seminggu kemudian pada tanggal 17-08-2013 kita memperingati hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 68, pada kesempatan yang mulya ini khatib ingin mengupas sedikit tentang menggapai substansi Idul Fitri dan korelasinya dengan hari peringatan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Sudah berulang kali kita merayakan Idul Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua umat Islam. Pada hari itu kita mengeksperesikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan kemenangan setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian diri dengan berpuasa. Status kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembeli dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, tentu saja kemenangan yang dapatkan dalam idul fitri adalah kemenangan ruhani.
Dihari yang fitri itu setiap umat islam dikembalikan pada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati, kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamanya yang semakin dekat denga Allah swt. Dan terwujud denga tali kasih kepada setiap makluknya. Bagi kafilah ramadhan idul fitri merupakan titik balik ketika manusia diarahkan untuk menggapai kembali entitas dirinya.hakikat idul fitri harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah ritual dan social dalam agenda hidup seorang muslim.
Idul Fitri Artinya kembali kepada kesucian. Melahirkan manusia fitrah yang selalu ada dalam kesadaran ketuhanan. Sudah tentu kesucian itu bisa diraih manakala kita bisa terus-menerus mengorbitkan semangat ramadhan pada bulan-bulan setelahnya. Sebentuk semangat yang terus melonjakan kualitas rohani serta tidak mengenal lelah memupuk hubungan vertical yang harmonis dengan sang halik, bukan hanya dibulan ramadhan saja rajin beribadah akan tetapi adanya semangat untuk selalu mempertahankanya disetiap desah nafas kita hingga kita dipanggil mengahadapnya.
Sebagai mana hadits diriwayatkan oleh Muslim dari A’isyah bahwa Rasullulah saw. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»،
Artinya: Amal yang paling dicintai oleh Allah swt. Adalah amal yang terus-menerus meskipun sedikit. (HR.Muslim) juz 1 hlm. 541.
Dengan kata lain idul fitri berkonskensi pada ruang jiwa yang bening (tazkiyatun nafs) yang diindikasikan dengan terciptanya kontinuitas pesan moral dari puasa itu sendiri. Pesan- pesan itu adalah Pertama : pesan pencerahan, Puasa dan idul Fitri memberikan wawasan luas bagi proses pengayaan kesadaran batin, pencerdasan nalar (fikr) sehinga pada ahirnya kita bias bertanggung jawab, bertopang pada pengetahuan dan terbimbing pancaran nilai ilahi.
Kedua : pesan perubahan. Bagaiman kita yang telah mengalami perubahan melalui puasa bisa mengubah perilaku kearah yang lebih baik. Hari-hari yang berlalu dihiasi dengan berbagai evalusi diri secara maksimal dan komprehensif. Perubahan itu ditandai dengan pribadi-pribadi yang ksatria  untuk melakukan dialog intraktif dengan diri sendiri.
Ketiga : pesan pembebasan. Artinya puasa dan idul fitri hendaknya membebaskan dan memerdekakan diri dan social dari kungkungan jerat individualisme (mementingakan diri sendiri) kearah sosialisme religious (turut merasakan) penderitaan orang lain. Kesalihan social inilah manefestasi utama dari idul fitri. Kesalihan dalam format demikian akan melahirkan akses bagi terbentuknya pribadi muttaqin sebagai terminal ahir dari puasa itu sendiri. Sebuah pribadi yang ditandai dengan relasi ritual yang kokoh dan relasi horizontal yang luas, sebagaiman firman Allah (Qs. Ali Imran : 112)
Manusia yang dilahirkan dari rahim idul fitri adalah manusia yang tercerahkan, dia mampu mengobjektivikasi kesalihan personal dan spiritual kepada kesalihan public secara luas. idul fitri dalam kontek tersebut tidak hanya dihormati secara lisan namun juga dimulyakan dalam setiap perilaku. Inilah jenis kesalihan yang dibutuhkan pada saat ini. Jika selama ini kita sudah merasa salih secara spiritual dan individual, ujian selanjutnya justru ada pada penterjemahan hal tersebut pada kesalihan social.
Spirit idul fitri menghendaki kita menjadi manusia-manusia yang terbebaskan, menjadi manusia-manusia yang berhasil memerdekakan dirinya dari segala bentuk belenggu, mualai dari belenggu dosa, dendam antara sesama, ketertindasan dll. Impresi idul fitri berujung pada kemerdekaan umat dari segala penjajahan fisik material maupun mental spiritual, inilah korelasi antara idul fitri dan peringatan hari kemerdekaan Negara Repulik Indonesia.
Seorang mu’min yang cerdas dia tidak akan terlena dengan hari kemenangan yang dirayakan setiap 1 Syawal saja, dia juga tidak bangga dengan hari kemerdekaan pada tgl 17 Agustus saja, akan tetapi dia selalu waspada dan (bermuhasabah) mengintropeksi diri dengan tetap mempertahankan kemenangan dan selalu memerdekakan jiwanya dengan tidak mengikuti keinginan hawa nafsu. Nabi menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatka oleh Imam Ahmad, Ibn Majah al-Tirmizdi dan al-Hakim, semua riwayat itu berpangkal pada sahabat Sydad b. Uais, Nabi bersabda:
قَالَ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ نَفْسَهُ وَهَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengintropeksi diri dan berwawasan ahirat, dan orang yang lemah adalah orang yang selalaui mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan ingin mendapatkan rahamat dari Allah swt.
Semuga kita senantiasi diberi pertolongan dan petunjuk oleh Allah swt. Untuk menjadi hambanya yang selalu mempertahankan jiwa fitri bukan hanya dihari raya idul fitri saja tetapi selalu kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita semakin bernilai dihadapanya.

بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم , وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar