إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ.
َمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا
النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ
وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat
dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan
baik sampai akhir zaman.
Hadirin jama’ah shalat jum’at yang dirahmati Allah
swt. mari kita senantiasa bertaqwa kepada
Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat
kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.Pada tahun ini dibulan Agustus umat islam Indonesia
dianugrahi dua hari yang sangat istemiwa, yang pertama adalah hari raya Idul
fitri pada tanggal 08-08-2013 seminggu kemudian pada tanggal 17-08-2013 kita
memperingati hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 68, pada kesempatan
yang mulya ini khatib ingin mengupas sedikit tentang menggapai substansi Idul
Fitri dan korelasinya dengan hari peringatan kemerdekaan Negara Republik
Indonesia.
Sudah berulang kali kita merayakan Idul
Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua umat Islam. Pada
hari itu kita mengeksperesikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan
kemenangan setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian
diri dengan berpuasa. Status kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembeli
dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, tentu saja kemenangan yang
dapatkan dalam idul fitri adalah kemenangan ruhani.
Dihari yang fitri itu setiap umat islam
dikembalikan pada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati,
kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamanya yang semakin dekat denga
Allah swt. Dan terwujud denga tali kasih kepada setiap makluknya. Bagi kafilah
ramadhan idul fitri merupakan titik balik ketika manusia diarahkan untuk
menggapai kembali entitas dirinya.hakikat idul fitri harus diwujudkan melalui
peningkatan kualitas ibadah ritual dan social dalam agenda hidup seorang
muslim.
Idul Fitri Artinya kembali kepada
kesucian. Melahirkan manusia fitrah yang selalu ada dalam kesadaran ketuhanan.
Sudah tentu kesucian itu bisa diraih manakala kita bisa terus-menerus
mengorbitkan semangat ramadhan pada bulan-bulan setelahnya. Sebentuk semangat
yang terus melonjakan kualitas rohani serta tidak mengenal lelah memupuk
hubungan vertical yang harmonis dengan sang halik, bukan hanya dibulan ramadhan
saja rajin beribadah akan tetapi adanya semangat untuk selalu mempertahankanya
disetiap desah nafas kita hingga kita dipanggil mengahadapnya.
Sebagai mana hadits diriwayatkan oleh
Muslim dari A’isyah bahwa Rasullulah saw. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ
تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ»،
Artinya: Amal
yang paling dicintai oleh Allah swt. Adalah amal yang terus-menerus meskipun
sedikit. (HR.Muslim) juz 1 hlm. 541.
Dengan kata lain idul fitri berkonskensi
pada ruang jiwa yang bening (tazkiyatun nafs) yang diindikasikan dengan
terciptanya kontinuitas pesan moral dari puasa itu sendiri. Pesan- pesan itu
adalah Pertama : pesan pencerahan, Puasa dan idul Fitri memberikan wawasan luas
bagi proses pengayaan kesadaran batin, pencerdasan nalar (fikr) sehinga pada
ahirnya kita bias bertanggung jawab, bertopang pada pengetahuan dan terbimbing
pancaran nilai ilahi.
Kedua : pesan perubahan. Bagaiman kita
yang telah mengalami perubahan melalui puasa bisa mengubah perilaku kearah yang
lebih baik. Hari-hari yang berlalu dihiasi dengan berbagai evalusi diri secara
maksimal dan komprehensif. Perubahan itu ditandai dengan pribadi-pribadi yang
ksatria untuk melakukan dialog intraktif
dengan diri sendiri.
Ketiga : pesan pembebasan. Artinya puasa
dan idul fitri hendaknya membebaskan dan memerdekakan diri dan social dari
kungkungan jerat individualisme (mementingakan diri sendiri) kearah sosialisme
religious (turut merasakan) penderitaan orang lain. Kesalihan social inilah
manefestasi utama dari idul fitri. Kesalihan dalam format demikian akan melahirkan
akses bagi terbentuknya pribadi muttaqin sebagai terminal ahir dari puasa itu
sendiri. Sebuah pribadi yang ditandai dengan relasi ritual yang kokoh dan
relasi horizontal yang luas, sebagaiman firman Allah (Qs. Ali Imran : 112)
Manusia yang dilahirkan dari rahim idul
fitri adalah manusia yang tercerahkan, dia mampu mengobjektivikasi kesalihan
personal dan spiritual kepada kesalihan public secara luas. idul fitri dalam
kontek tersebut tidak hanya dihormati secara lisan namun juga dimulyakan dalam
setiap perilaku. Inilah jenis kesalihan yang dibutuhkan pada saat ini. Jika selama
ini kita sudah merasa salih secara spiritual dan individual, ujian selanjutnya
justru ada pada penterjemahan hal tersebut pada kesalihan social.
Spirit idul fitri menghendaki kita
menjadi manusia-manusia yang terbebaskan, menjadi manusia-manusia yang berhasil
memerdekakan dirinya dari segala bentuk belenggu, mualai dari belenggu dosa,
dendam antara sesama, ketertindasan dll. Impresi idul fitri berujung pada
kemerdekaan umat dari segala penjajahan fisik material maupun mental spiritual,
inilah korelasi antara idul fitri dan peringatan hari kemerdekaan Negara
Repulik Indonesia.
Seorang mu’min yang cerdas dia tidak
akan terlena dengan hari kemenangan yang dirayakan setiap 1 Syawal saja, dia
juga tidak bangga dengan hari kemerdekaan pada tgl 17 Agustus saja, akan tetapi
dia selalu waspada dan (bermuhasabah) mengintropeksi diri dengan tetap
mempertahankan kemenangan dan selalu memerdekakan jiwanya dengan tidak
mengikuti keinginan hawa nafsu. Nabi menjelaskan dalam sebuah hadits yang
diriwayatka oleh Imam Ahmad, Ibn Majah al-Tirmizdi dan al-Hakim, semua riwayat
itu berpangkal pada sahabat Sydad b. Uais, Nabi bersabda:
قَالَ: «الْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنِ اتَّبَعَ
نَفْسَهُ وَهَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Artinya: orang yang cerdas adalah orang
yang selalu mengintropeksi diri dan berwawasan ahirat, dan orang yang lemah
adalah orang yang selalaui mengikuti keinginan hawa nafsunya dan berangan-angan
ingin mendapatkan rahamat dari Allah swt.
Semuga kita senantiasi diberi
pertolongan dan petunjuk oleh Allah swt. Untuk menjadi hambanya yang selalu
mempertahankan jiwa fitri bukan hanya dihari raya idul fitri saja tetapi selalu
kita bawa kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita semakin bernilai
dihadapanya.
بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم
وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم , وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ
وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar